Filosofi Angin

Di dunia yang luas ini, banyak sekali hal yang bisa ditelaah. Mulai dari semut yang berukuran kecil, hingga matahari yang sangat besar di pusat tata surya kita. Namun tak perlu jauh-jauh. Banyak hal yang ada di sekitar kita yang dapat dipelajari manfaatnya, semisal filosofi angin...

Filosofi Air Terjun

Di dunia, terdapat banyak tanda-tanda kebesaran Tuhan yang bisa kita cermati. Salah satunya, air terjun. Seperti yang kita tau, air terjun merupakan fenomena yang sangat unik dan...

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Filosofi Air Terjun

Di dunia, terdapat banyak tanda-tanda kebesaran tuhan yang bisa kita cermati. Salah satunya, Air terjun. Seperti yang kita tau, air terjun merupakan fenomena yang sangat unik dan cukup jarang ditemukan di sebagian negara. Karna itulah, sebagai penduduk negri yang memiliki banyak objek wisata air terjun kita harus bersyukur.


Seperti objek alam lainya, air terjun memiliki keunikan dan filosofi yang cukup menarik. Tak sekedar menarik, filosofinya yang mengingatkan kita akan sifat kesahajaan amatlah menginspirasi kehidupan kita sebagai mahluk social.

1. Air Terjun melambangkan kesahajaan



Seperti yang kita tau, sudah menjadi sifat alami air jika ia senantiasa mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Tak peduli dari mana asalnya, sekaya apa kandungan mineralnya, ia selalu bermuara ke lautan. Namun dalam perjalananya, airpun memiliki alur perjalanan yang cukup menegangkan. Dan air terjun adalah salah satu jalur yang masuk ke kategori menegangkan.

Betapa tidak? Pada mulanya, air yang mengalir dengan konsisten tiba-tiba harus jatuh dari ketinggian dan harus bertemu dengan arus air yang baru. Tak peduli yang dibawah lebih kotor atau tidak, lebih jernih atau tidak, air di spot air terjun tak merasa ragu serta tidak menghindar sama sekali. Berkat kesahajaan ini, tempat yang dituju air terjun selalu medapatkan asupan air. Selain itu, air juga bisa melanjutkan perjalananya ke lautan.

Hal semacam ini tentunya amat menginspirasi. Bayangkan jika manusia memiliki sifat kesahajaan yang merata. Tentunya, banyak permasalahan yang bisa dicegah dan bisa teratasi. Walaupun membutuhkan waktu, kita mesti berlatih sedikit demi sedikit agar memiliki sifat kesahajaan.

2. Air Terjun melambangkan keindahan


Fenomena air terjun memiliki keunikan yang indah. Tak jarang, kita bisa menemukan pelangi di lokasi air terjun yang sedang kita kunjungi. Walaupun keindahanya tak terlalu cantik untuk sebagian orang, air terjun tetap memancarkan pesonanya dengan konsisten.

Tak peduli siang ataupun malam, selama masih ada air yang siap melintas, air terjun selalu memancarkan keindahanya dengan konsisten.

Tentunya, ini mengajarkan kepada kita akan sesuatu. Yakni, untuk senantiasa memancarkan keindahan dimana saja secara konsisten. Bila filosofi keindahan ini mampu dimengerti dan dipraktekan oleh banyak orang, dunia akan terlihat lebih cantik dan lebih indah.

3. Air Terjun mengajarkan sifat konsisten



Jauh sebelum ditemukan para penjelajah alam, air terjun sudah terlebih dahulu mengalirkan jutaan liter airnya dengan konsisten. Selama ada air yang melintas di atas, air terjun akan selalu menyalurkanya ke bawah sehingga air bisa terjun dengan bebas.

Bila tidak konsisten, mungkin air terjun tak akan seindah itu. Selain itu, bila tidak terdapatnya pola kerja yang konsisten, air terjun tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal ini dapat dijadikan pelajaran agar manusia memiliki sifat yang konsisten.

Selama itu bermanfaat dan tidak mendatangkan bahaya bagi siapapun, sifat konsisten akan sangat berguna di kehidupan sosial, terlebih lagi di pekerjaanya. Tanpa sifat konsisten, mustahil bagi seseorang untuk fokus terhadap pekerjaanya.

>>

Filosofi Angin

Di dunia yang luas ini, banyak sekali hal yang bisa ditelaah. Mulai dari semut yang berukuran kecil, hingga matahari yang sangat besar di pusat tata surya kita. Namun tak perlu jauh-jauh. Banyak hal yang ada di sekitar kita yang dapat dipelajari manfaatnya, semisal filosofi angin yang hanya bisa kita rasa.

Seperti yang kita tau, angin hanyalah udara yang bergerak. Walaupun ia kasat mata, angin bisa dirasakan kehadiranya oleh siapa saja saat ia sedang berlalu di sekitarnya. Namun, apakah anda pernah berfikir tentang apa makna dibalik angin? Kira-kira seperti apa ya filosofinya?

1. Punya Energi yang tersembunyi dan tidak kasat mata



Di mata sebagian orang, angin hanyalah sebuah objek yang tidak memiliki makna. Betapa tidak? Angin hanya terlihat bergerak kesana kemari mengikuti alur alami yang telah digariskan oleh Tuhan. Namun di mata para ilmuan, angin bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi energi pembangkit tenaga listrik.

Hal seperti ini sangatlah lumrah di negara maju, semisal Belanda. Negeri yang dulu pernah menjajah Indonesia itu memang terkenal akan pemanfaatan tenaga anginnya. Di sana, banyak terdapat kincir angin yang mampu menghasilkan energi listrik. Walaupun wujudnya tak terlihat, filosofi angin terbukti juga memiliki kandungan energi yang tersembunyi.

Karenanya, kita dapat belajar untuk tidak mudah meremehkan hal kecil seperti angin. Karena dibalik hal kecil pun, tersimpan potensi yang cukup besar untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.


2. Penyejuk Kehidupan kita yang punya banyak makna



Filosofi angin yang kedua, ialah penyejuk kehidupan. Betapa tidak? Angin yang semilir mampu membuat siapapun merasa nyaman. Tak hanya angin yang tersedia di alam. Aliran udara tersebut, juga sengaja diciptakan oleh manusia dengan alat elektronika yang beraneka ragam. Mulai dari kipas angina sederhana, hingga AC yang berteknologi canggih.

Baik angin yang ada di alam, ataupun angin yang tercipta dari alat elektronik, kesemuanya itu memang memiliki satu persamaan. Yakni, sama-sama menciptakan kesejukan. Walaupun tak sedikit kasus angin yang membawa kerusakan, nyatanya angin yang semilir tetap bisa memberikan kita suasana sejuk dan nyaman.

Seperti halnya dengan angin. Manusia juga harus bisa menciptakan kesejukan untuk kehidupannya. Juga, untuk lingkungan sekitarnya. Bila belum mampu untuk menciptakan kesejukan, seminimal mungkin ia tidak membawa kerusakan untuk lingkungannya.


3. Dia bergerak bebas menuruti suara hati



Di alam, angin bergerak dengan bebasnya. Ia melaju kesana, dan kemari. Mengikuti perbedaan tekanan udara yang ada di lingkungan. Seakan tak ada rintangan, angin senantiasa bergerak dan berpetualang dengan bebasnya di alam terbuka.

Itu membuktikan bahwa angin memiliki sifat yang sigap dan fleksibel. Ketika ada celah perbedaan tekanan udara, dengan sigapnya angin mengisi kekosongan yang ada di alam terbuka. Tanpa mengenal siang dan malam, angina selalu konsisten dengan kesigapan serta fleksibilitasnya. Kesemuanya itu angin lakukan untuk menjaga keseimbangan tekanan udara yang ada di alam.

Seperti halnya udara yang memiliki tekanan yang berbeda-beda, lingkungan sosial manusia juga memiliki tingkat porsi tekanan yang berbeda-beda. Selain itu, selalu ada perubahan yang menciptakan beberapa kekosongan. Oleh karenanya, manusia harus benar-benar bisa bertindak dengan sigap dan mengisi tiap kekosongan yang ada masyarakat. Agar tercipta lingkungan yang stabil.

>>

Filosofi Awan

Awan bukan saja memberi keteduhan, tapi juga keteladanan.

Awan merupakan suatu objek langit yang tercipta dari sekumpulan uap air yang berkerumun di udara. Ia sering berlarian kesana dan kemari, selaras mengikuti pergerakan hembusan angin. Awalnya, awan hanya berbentuk gumpalan kecil. Namun kelamaan awan akan berkerumun, lalu membesar.

Seiring waktu, awan yang besar akan mengalami kejenuhan di ketinggian langit yang terbuka. Dengan adanya kejenuhan, partikel awan yang berupa uap, akan mengkristal kemudian menjelma menjadi bulir bulir air. Karena bobot air yang lebih berat dari uapnya, air pun jatuh dalam bentuk rintik yang biasa kita sapa hujan.

Walau terkesan agak melankolis, filosofi awan ternyata cukup pantas untuk disimak. Mengapa bisa demikian? Simak sejenak yuk! 
1. Menginspirasikan Keteduhan
Hari yang cerah memang indah. Namun tak satupun manusia menginginkan cuaca yang terlalu terik. Maka dari itu, manusia pun berusaha untuk mencari keteduhan. Mulai dari mencari pohon yang rindang, membangun rumah, hingga membuat alat pendingin ruangan.
Tuhan yang maha Esa memang adil. Sejatinya, ia senantiasa menjawab kebutuhan manusia yang beraneka ragam. Walaupun kadang ia memberikan langit yang cerah nan terik, ia juga menciptakan jenis langit yang memberikan keteduhan.
Keteduhan itu, tak lain diciptakan Sang-Kuasa lewat awan yang sengaja Ia gumpalkan di langit. Dengan awan tadi, akan terbentuklah bayangan yang tentunya meneduhkan bagi setiap insan serta seluruh mahluk yang ada di permukaan bumi.
Seakan memberi contoh, awan di langit mengajarkan kita untuk senantiasa mampu membawa keteduhan dimanapun kita berada.

2. Mengajarkan Persatuan

Bila kita menengadah ke langit yang berawan, pastinya kita akan melihat awan dengan berbagai ukuran. Ada yang besar, sedang, sampai kecil. Awan yang berukuran paling besar sebenarnya hanyalah sebuah awan yang terdiri dari beberapa awan yang berukuran kecil.

Faktanya, mereka memiliki ketinggian yang berbeda. Walaupun begitu, mereka memiliki sifat alami saling mengikat dan bersatu untuk menjadi sebuah kesatuan awan yang besar. Dari peristiwa alam inilah, kita bisa memahami bahwa persatuan amatlah penting bila menginginkan sebuah kesatuan yang berukuran besar.

3. Awan yang Rendah Hati (Di dunia ini, jumlah dan besarantak patut di banggakan) 

Dari teras rumah, kita dapat melihat aneka bentuk awan yang unik. Mulai dari yang kecil, sedang, hingga raksasa. Mereka memang Nampak tidak terlalu besar dari permukaan bumi. Namun ketika kamu melihatnya di langit, sebenarnya awan yang terlihat kecil tadi memiliki luas berkali lipat luas rumahmu itu.

Namun bagi yang memperhatikan, awan senantiasa bergerak ke sana dan kemari dengan mudahnya mengikuti arah mata angin tanpa bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dari hal itu kita bisa memetik pelajaran bahwa ukuran dan jumlah saja belumlah pantas untuk disombongkan.

4. Awan yang Tawakal (Semuanya bermula, berproses, dan akan hancur pada waktunya)
Setiap hal yang ada di bumi memang mengandung misteri. Namun, bagi yang mau berfikir pasti akan mendapatkan pelajaran yang berharga. Lewat awan, kita dapat belajar bahwa semua yang ada di dunia memiliki awal. Awal yang berupa ketiadaan, lalu muncul perlahan, dan berproses sedemikian rupa hingga bersatu, besar, dan berisi.
Namun sebagai mahluk yang bijak, sebaiknya kita tidak boleh lupa diri. Sebesar apapun kapasitas kita di dunia, sebanyak apapun kuantitas manusia di permukaan bumi, pada akhirnya semua itu pasti memiliki ujung yang telah digariskan oleh sang pencipta.

>>

Batu, Kerikil, dan Pasir

 


Pada awal kelas filsafat di sebuah Universitas, Profesor berdiri dengan beberapa item yang terlihat berbahaya di atas mejanya. Yaitu sebuah toples mayonaisse kosong, beberapa batu, beberapa Kerikil, dan pasir. Mahasiswa memandang benda-benda tersebut dengan penasaran. Mereka bertanya-tanya, apa yang ingin profesor itu lakukan dan mencoba untuk menebak demonstrasi apa yang akan terjadi.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Profesor mulai meletakkan batu-batu kecil kedalam toples mayonaisse satu persatu. Para mahasiswa pun bingung, namun profesor tidak memberikan penjelasan terlebih dahulu. Setelah batu-batu itu sampai ke leher toples, Profesor berbicara untuk yang pertama kalinya hari itu. Dia bertanya kepada mahasiswa apakah mereka pikir toples itu sudah penuh. Para mahasiswa sepakat bahwa toples tersebut sudah penuh.

Lalu profesor itu mengambil kerikil di atas meja dan perlahan menuangkan kerikil tersebut ke dalam toples. Kerikil kecil tersebut menemukan celah di antara batu-batu besar. Kemudian profesor itu mengguncang ringan toples tersebut untuk memungkinkan kerikil menetap pada. celah yang terdapat di dalam toples.  Kemudian ia kembali bertanya kepada mahasiswa apakah toples itu sudah penuh, dan mahasiswa kembali sepakat bahwa toples itu telah penuh.

Para mahasiswa sekarang tahu apa yang akan profesor lakukan selanjutnya, tapi mereka masih tidak mengerti mengapa profesor melakukannya. Profesor itu mengambil pasir dan menuangkannya kedalam toples mayonaisse. Pasir, seperti yang diharapkan, mengisi setiap ruang yang tersisa dala toples. Profesor untuk terakhir kalinya bertanya kepada murid - muridnya, apakah toples itu sudah penuh, dan jawabannya adalah sekali lagi : YA.

Profesor itu kemudian menjelaskan bahwa toples mayonaisse adalah analogi untuk kehidupan. Dia menyamakan batu dengan hal yang paling penting dalam hidup, yaitu: kesehatan, pasangan anda, anak-anak anda, dan semua hal yang membuat hidup lengkap.

Dia kemudian membandingkan kerikil untuk hal-hal yang membuat hidup anda nyaman seperti pekerjaan anda, rumah anda, dan mobil anda. Akhirnya ia menjelaskan pasir adalah hal-hal kecil yang tidak terlalu penting di dalam hidup anda.

Profesor menjelaskan, menempatkan pasir terlebih dahulu di toples akan menyebabkan tidak ada ruang untuk batu atau kerikil. Demikian pula, mengacaukan hidup anda dengan hal-hal kecil akan menyebabkan anda tidak memiliki ruang untuk hal-hal besar yang benar-benar berharga.

Pesan Moral : Perhatian segala sesuatu yang penting demi kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Luangkan waktu untuk bersama dengan anak-anak dan. pasangan anda. selesaikan pekerjaan anda ketika anda berada di kantor, jangan saat anda sedang berkumpul dengan keluarga. Dendam terhadap seseorang tidak akan bermanfaat untuk anda. Dapatkan prioritas anda sekarang dan bedakan antara batu, kerikil, dan pasir. 
>>

Filosofi Air

  1. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah artinya mengajarkan agar rendah hati. 
  2. Air sangat berguna untuk semua kehidupan makhluk hidup artinya mengajarkan kita kebaikan. 
  3. Tetesan air bisa melubangin kerasnya batu karang artinya mengajarkan kegigihan.
  4. Air tidak bersifat kaku dan mudah beradaptasi dimanapun artinya mengajarkan soal fleksibilitas.
  5. yang terakhir Air bersifat lembut tetapi bisa menjadi kuat dan menguatkan bila di butuhkan. 
>>

Menu